Edisi 27 Oktober 2026Dari lobi sampai grand final.
← Arena PixelKonsol

Mengapa mesin konsol sering dijual tanpa untung, dan di mana uangnya sebenarnya

Kotak di bawah televisi itu bukan produk utama. Ia adalah pintu masuk ke bisnis yang sesungguhnya.

Mengapa mesin konsol sering dijual tanpa untung, dan di mana uangnya sebenarnya
Foto: M / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Bagi orang luar, bisnis konsol terlihat jelas: perusahaan membuat mesin, menjualnya, dan untung dari selisih harga. Kenyataannya jauh lebih berlapis, dan memahaminya menjelaskan banyak hal yang kerap membingungkan pemain, mulai dari mengapa konsol baru terasa terjangkau dibandingkan komponen PC setara, sampai mengapa pemilik platform begitu peduli pada apa yang kita beli setelah membawa mesinnya pulang.

Model yang umum dipakai pemilik platform sering disamakan dengan bisnis pisau cukur: gagangnya dijual murah, mata pisaunya yang menghasilkan uang. Dalam dunia konsol, gagangnya adalah mesin, mata pisaunya adalah segala sesuatu yang dibeli untuk mesin itu. Pemilik platform mendapat bagian dari setiap game yang terjual, baik fisik maupun digital, karena setiap pengembang yang ingin merilis game di konsol tersebut harus melalui mereka. Di atas itu ada layanan langganan, konten tambahan, dan aksesori resmi.

Baca juga: Tingkat kesulitan sebagai keputusan desain: dari pilihan mudah hingga tanpa ampun

Mengapa jumlah mesin tetap diperebutkan

Kalau mesinnya tidak menghasilkan untung, mengapa pemilik platform tetap berlomba menjual sebanyak mungkin? Karena setiap mesin yang terpasang di ruang tamu adalah satu pelanggan potensial untuk bertahun-tahun ke depan. Semakin banyak mesin beredar, semakin menarik platform itu bagi pengembang, semakin banyak game yang dibuat untuknya, dan semakin banyak pemain yang tertarik membeli mesinnya. Lingkaran ini memperkuat dirinya sendiri, dan pemilik platform yang kalah di awal generasi sering kesulitan mengejar.

Ada konsekuensi yang langsung terasa oleh pemain. Pemilik platform punya kepentingan besar menjaga agar semua pembelian terjadi di dalam ekosistemnya. Itulah mengapa toko digital bawaan begitu menonjol, mengapa langganan terus ditawarkan, dan mengapa penguncian wilayah serta pengendalian lisensi dijaga ketat.

Memahami model ini tidak harus membuat kita sinis. Kompromi inilah yang memungkinkan mesin berdaya tinggi sampai ke lebih banyak rumah. Namun pemain yang paham bahwa dirinya adalah bagian dari rencana jangka panjang akan lebih bijak membaca setiap tawaran yang muncul di layar.

FG
Fitri GintingFitri menulis di Arena Pixel antara 2024 dan 2025 tentang game ponsel dan sistem monetisasi gacha. Ia terbiasa menghitung sendiri berapa jam permainan yang dibutuhkan untuk mencapai sesuatu tanpa membayar, lalu menuliskannya apa adanya.